Spiet Handerson – Kudeta di Guinea-Bissau, Krisis politik memuncak di Guinea-Bissau setelah perwira militer merebut kekuasaan pada Rabu, 27 November 2025, sehari sebelum hasil pemilu dijadwalkan diumumkan. Presiden Umaro Sissoco Embalo dilaporkan digulingkan, sementara proses pemilu ditangguhkan, perbatasan ditutup, dan jam malam diberlakukan di seluruh negeri.
Juru bicara militer, Diniz N’Tchama, menyatakan pihaknya telah membentuk “Komando Militer Tinggi untuk Pemulihan Ketertiban” yang akan memerintah hingga waktu yang belum ditentukan. Embalo disebut berada di kantor Kepala Staf Angkatan Darat, tetapi belum ada konfirmasi resmi terkait status penahanannya.
Tokoh politik utama menjadi sasaran. Fernando Dias, penantang pemilu, mengatakan dirinya aman setelah upaya penahanan oleh orang bersenjata. Sementara itu, mantan Perdana Menteri Domingos Simoes Pereira dilaporkan ditahan oleh militer. Kedua tokoh ini menyoroti ketegangan yang meningkat menjelang hasil pemilu yang sengit.
Baca Juga: 3 Eksekutif Proyek Ditangkap Terkait Kebakaran Wang Fuk Court
Uni Afrika dan ECOWAS menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut. Kedua lembaga menyerukan pembebasan seluruh tahanan politik dan menekankan pentingnya pemulihan proses demokrasi di negara Afrika Barat yang dikenal rawan kudeta ini.
Guinea-Bissau, dengan populasi sekitar dua juta, memiliki sejarah panjang kudeta dan ketidakstabilan. Posisi strategis negara sebagai jalur transit kokain menuju Eropa menambah kompleksitas krisis politik, memperbesar risiko konflik berkepanjangan dan ketidakpastian pemerintahan.
Kudeta di Guinea-Bissau: Militer Ambil Alih Kekuasaan Sebelum Pemilu
Kudeta militer mengejutkan Guinea-Bissau pada Rabu, 27 November 2025, sehari sebelum hasil pemilu presiden diumumkan. Presiden Umaro Sissoco Embalo dilaporkan digulingkan, sementara proses pemilu ditangguhkan dan jam malam diberlakukan di seluruh negeri.
Militer membentuk “Komando Militer Tinggi untuk Pemulihan Ketertiban” yang akan memimpin negara sampai waktu yang belum ditentukan. Juru bicara militer, Diniz N’Tchama, menegaskan tindakan ini untuk memulihkan stabilitas politik yang dianggap genting.
Baca Juga: Wali Kota Sibolga Hilang Kontak Usai Terjebak Longsor
Tokoh politik utama menjadi target penahanan. Fernando Dias, penantang pemilu, melaporkan dirinya aman, sementara mantan Perdana Menteri Domingos Simoes Pereira dikabarkan ditahan militer. Insiden ini memicu ketegangan serius menjelang pengumuman hasil pemilu.
Organisasi regional bereaksi cepat. Uni Afrika dan ECOWAS menyerukan pembebasan tahanan politik dan menekankan perlunya pemulihan proses demokrasi. Mereka menyuarakan keprihatinan atas gangguan serius terhadap stabilitas nasional.
Guinea-Bissau dikenal memiliki sejarah panjang kudeta sejak merdeka. Posisi negara sebagai jalur transit narkoba internasional memperburuk risiko konflik, menekankan pentingnya pemantauan internasional dan bantuan diplomatik.




Leave a Reply