spiethanderson.com – Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Migas, Satya Hangga Yudha Widya Putra, menekankan pentingnya peran kilang minyak mentah dalam hilirisasi energi nasional.
“Selama ini, Indonesia mengekspor bahan mentah, kemudian diolah di luar negeri dan diimpor kembali, sehingga nilai tambahnya justru dinikmati negara lain,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Menurut Hangga, penguatan kilang domestik memungkinkan nilai tambah pengolahan minyak mentah tetap berada di dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperkuat daya saing nasional dan meningkatkan kontribusi sektor migas terhadap perekonomian.
Kunjungan Kerja ke Kilang Cilacap
Hangga mengunjungi Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis (8/1/2026). Kunjungan ini bertujuan meninjau kondisi operasional kilang, tantangan yang dihadapi, serta potensi pengembangan dan revitalisasi kilang.
RU IV Cilacap merupakan salah satu kilang terbesar dan paling strategis di Indonesia, dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Kilang ini telah beroperasi sejak 1974 dengan kapasitas pengolahan mencapai 348 ribu barel per hari, memasok sekitar 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa, dan lebih dari 30 persen kapasitas kilang nasional.
“RU IV memiliki fleksibilitas tinggi dalam mengolah berbagai jenis minyak mentah. Kilang ini juga pionir dalam produksi Pertalite dan Sustainable Aviation Fuel (SAF),” jelas Hangga.
Revitalisasi dan Pengembangan Kilang
Sebagian besar kilang di Indonesia, termasuk RU IV Cilacap, telah berusia lama. Pemerintah mendorong revitalisasi dan peningkatan kapasitas melalui pengembangan bertahap atau pendekatan proyek kilang minyak modular.
Program ini diselaraskan dengan kebijakan dan regulasi Kementerian ESDM agar pengembangan kilang dapat berjalan optimal. Hangga menekankan bahwa kilang tidak hanya memproduksi BBM, tetapi juga avtur, petrokimia, bahan bakar khusus seperti Pertamax, dan lube base oil.
Selain mendukung kebutuhan domestik, pengembangan kilang diharapkan mengurangi ketergantungan Indonesia pada pengolahan minyak di luar negeri. Hal ini sejalan dengan tujuan hilirisasi energi nasional, yang juga menaungi 18 proyek strategis dalam Satuan Tugas Hilirisasi.
Strategi Penguatan Hilirisasi
Hangga menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada kapasitas kilang, tetapi juga strategi pengelolaan dan regulasi. Pemerintah menekankan sinergi antara kebijakan fiskal, teknis operasional, dan investasi swasta untuk memperkuat sektor migas.
“Melalui penguatan kilang, nilai tambah minyak mentah bisa maksimal di dalam negeri, mendukung ekonomi nasional, dan mengurangi ketergantungan impor produk olahan,” katanya.
RU IV Cilacap sendiri telah menunjukkan kontribusi signifikan terhadap ketersediaan energi di Indonesia. Selain menyuplai BBM, kilang ini juga mengekspor produk petrokimia tertentu dan menjadi acuan bagi proyek hilirisasi baru.
Pandangan ke Depan
Pengembangan dan revitalisasi kilang menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya mengekspor sumber daya alam mentah, tetapi juga mampu memanfaatkan secara optimal nilai tambahnya.
“Ke depan, kilang domestik harus lebih adaptif, efisien, dan mampu menghasilkan produk dengan standar global. Hilirisasi ini juga mendukung ketahanan energi nasional,” tutup Hangga.
Dengan strategi ini, pemerintah menegaskan komitmen untuk memastikan kilang berperan maksimal dalam mendukung hilirisasi energi, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan kemandirian energi Indonesia.




Leave a Reply