Trump Ingin Rebut Pangkalan Udara Bagram, Ini Kata Taliban
Spiet Handerson – Trump Ingin Rebut Pangkalan Udara Bagram, Ini Kata Taliban Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (19/9/2025) menyatakan keinginannya untuk kembali menguasai Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan. Pangkalan tersebut sebelumnya menjadi basis militer NATO selama dua dekade sebelum diserahkan kepada militer Afghanistan.
Trump menegaskan bahwa AS tidak seharusnya melepaskan pangkalan strategis itu. Menurutnya, Bagram bisa saja kembali dikuasai karena Afghanistan dinilai masih membutuhkan bantuan dari AS. “Kita seharusnya tidak pernah menyerahkannya,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Namun, gagasan tersebut langsung mendapat penolakan dari pihak Taliban. Zakir Jalal, pejabat Kementerian Luar Negeri Taliban, menyatakan bahwa usulan AS untuk mempertahankan atau merebut kembali kehadiran militernya di Afghanistan “sepenuhnya ditolak.” Jalal menegaskan bahwa hal ini sudah menjadi kesepakatan dalam perundingan sebelum Taliban kembali berkuasa.
“Baca Juga: AS Rencanakan Penjualan Senjata Rp106 T ke Israel”
Pangkalan Bagram sendiri diserahkan kepada militer Afghanistan tak lama sebelum Taliban mengambil alih kendali negara itu. Kini, wacana Trump untuk merebut kembali fasilitas tersebut menimbulkan pertanyaan besar tentang arah kebijakan luar negeri AS di Asia Tengah.
Rencana Trump diperkirakan akan memicu reaksi keras dari Taliban dan komunitas internasional. Potensi ketegangan baru di Afghanistan dapat mengguncang stabilitas kawasan jika AS benar-benar menindaklanjutinya. Masa depan pangkalan strategis Bagram bisa menjadi salah satu isu utama dalam hubungan kedua pihak ke depan.
Penarikan penuh pasukan AS dari Afghanistan adalah hasil kesepakatan 2020 pada masa pemerintahan pertama Donald Trump. Proses tersebut berakhir pada 2021 di bawah Presiden Joe Biden.
Namun, Trump kembali menyinggung Pangkalan Udara Bagram. Pada Maret, ia mengatakan pangkalan itu penting bukan untuk Afghanistan, melainkan untuk menghadapi China. Pada Kamis (18/9/2025), Trump menegaskan kembali pandangannya dengan menyebut Bagram strategis karena “hanya satu jam dari lokasi produksi senjata nuklir China.” Meski begitu, pernyataannya menimbulkan kebingungan karena tidak dijelaskan secara detail.
Trump juga berulang kali menuduh China memiliki kehadiran di Bagram, pangkalan yang terletak di utara Kabul. Klaim tersebut segera dibantah Taliban. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada Jumat menegaskan bahwa Beijing menghormati integritas dan kedaulatan Afghanistan. “Masa depan Afghanistan harus berada di tangan rakyat Afghanistan,” ujarnya.
“Baca Juga: Bocah 15 Tahun Bawa Mobil Tabrak Motor di Tangerang”
Sementara itu, pejabat Taliban Zakir Jalal menegaskan sikap penolakan atas kemungkinan kembalinya militer AS. Melalui unggahan di platform X, ia menyatakan bahwa sepanjang sejarah rakyat Afghanistan tidak menerima kehadiran militer asing. Jalal menambahkan bahwa penolakan ini sudah ditegaskan dalam perjanjian Doha, meskipun Taliban membuka ruang untuk bentuk keterlibatan lain.
AS dan Taliban masih terlibat dalam perundingan terbatas. Pertemuan terakhir pada Sabtu (20/9/2025) membahas warga negara Amerika yang ditahan di Afghanistan, menurut laporan Reuters.
Rencana Trump mengaitkan Bagram dengan isu China menambah kompleksitas hubungan internasional. Ke depan, pangkalan strategis ini bisa menjadi titik ketegangan baru antara AS, Taliban, dan Beijing.
LRT Jabodebek Cetak Rekor Penumpang pada Mei 2026, Mobilitas Publik Terus Menguat spiethanderson - LRT…
Rekam Jejak Emas Bojan Hodak dan Transisi Strategis Kursi Pelatih Persib Bandung spiethanderson - Manajemen…
Keunggulan HP Spectre x360 14 Sebagai Standar Baru AI PC Premium 2026 spiethanderson - HP…
spiethanderson - Sony Interactive Entertainment terus mendefinisikan ulang standar hiburan interaktif melalui PlayStation 5 Slim.…
Spiethanderson - BMKG merilis data terbaru mengenai pola cuaca ekstrem yang melanda wilayah Indonesia hari…
Spiethanderson - Tim bulu tangkis putra Indonesia mencatat hasil paling kelam sepanjang sejarah keikutsertaan mereka…