Spiet Handerson – Paramiliter Sudan, Pasukan Dukungan Cepat (RSF), mengumumkan gencatan senjata sepihak selama tiga bulan dengan tentara Sudan. Langkah ini ditujukan untuk mendukung bantuan kemanusiaan dan meredakan kekerasan yang telah menewaskan ribuan orang sejak April 2023.
Komandan RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, menyatakan bahwa pasukannya dan kelompok sekutu menyetujui penghentian semua permusuhan. Gencatan senjata ini memungkinkan pekerja bantuan bergerak bebas, menjaga fasilitas organisasi kemanusiaan, dan mendukung operasi medis di wilayah terdampak.
Baca Juga: 2 Anggota Garda Nasional AS Ditembak Dekat Gedung Putih
Dagalo menambahkan bahwa RSF setuju membentuk mekanisme pemantauan lapangan di bawah pengawasan Quad dan Uni Afrika. Tujuannya memastikan bantuan kemanusiaan mencapai warga sipil secara aman dan tepat waktu. Ia berharap langkah ini menjadi awal menuju solusi politik yang komprehensif bagi Sudan.
Komandan RSF juga menegaskan bahwa jalur politik masa depan harus mengecualikan kelompok yang ia sebut bertanggung jawab atas penderitaan Sudan selama tiga dekade. Kelompok ini meliputi Gerakan Islam teroris, Ikhwanul Muslimin, dan Partai Kongres Nasional beserta afiliasinya. Belum ada tanggapan resmi dari tentara Sudan mengenai pengumuman ini.
Sejak April 2023, konflik antara tentara Sudan dan RSF telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar. Gencatan senjata ini diharapkan membuka akses bantuan, mengurangi korban sipil, dan mendorong mediasi internasional menuju transisi stabil.
RSF Sudan Terapkan Gencatan Senjata, Fokus Pada Bantuan dan Perlindungan Sipil
Paramiliter RSF Sudan mengumumkan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan, sebagai respons atas tekanan internasional untuk menghentikan kekerasan. Langkah ini juga dimaksudkan untuk mempermudah akses lembaga bantuan kepada warga terdampak konflik.
Komandan RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, menegaskan pasukannya akan menghentikan seluruh tindakan permusuhan dan memastikan pergerakan pekerja bantuan serta distribusi logistik berjalan aman. Ia menekankan perlunya koordinasi dengan otoritas internasional untuk memastikan kepatuhan lapangan.
RSF juga menyepakati pembentukan mekanisme pemantauan lapangan yang diawasi Quad dan Uni Afrika. Mekanisme ini bertujuan memastikan gencatan senjata tidak dilanggar dan bantuan kemanusiaan mencapai warga yang terisolasi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi RSF untuk mendukung proses politik yang stabil. Dagalo menekankan bahwa semua jalur politik masa depan harus mengecualikan kelompok yang dianggap bertanggung jawab atas penderitaan rakyat Sudan selama tiga dekade.
Meski gencatan senjata diumumkan, pihak militer Sudan belum memberikan tanggapan resmi. Para pengamat menilai keputusan RSF ini penting untuk menurunkan eskalasi konflik dan memberi ruang bagi evakuasi serta bantuan medis bagi warga sipil.




Leave a Reply